ayo hadiri kirab budaya kota solo mulai pukul 14.00 wib di jalan slamet riyadi dalam HUT kota solo………………….mari kita lestarikan budaya kita untuk masa depan……………..
KEHAMILAN
Biasanya begitu kita hamil, muncullah aneka “nasehat” yang berbau anjuran dan larangan. Tidak boleh ini, harus itu, dan sebagainya. Padahal, seringkali itu cuma mitos belaka.
“Wah, bayimu pasti perempuan. Soalnya, sejak hamil kamu jadi senang berdandan. Dulu mbakyumu juga begitu. Pokoknya, tebakan Ibu nggak pernah meleset, deh!” kata seorang wanita baya tentang calon cucunya.
Ternyata tebakannya memang benar. Yang lahir seorang bayi wanita mungil dan cantik. “Tuh, benar, kan, kata Nenek. Kamu memang sudah kelihatan perempuan sejak dalam kandungan ibumu,” tutur sang nenek bahagia sambil menggendong cucunya.
Benarkah bahwa ibu hamil yang senang bersolek pertanda ia bakal melahirkan bayi perempuan? Sementara ibu hamil yang cenderung malas dan emoh berdandan pasti akan melahirkan bayi lelaki?
Secara medis, tentu saja hal itu tak ada kaitannya. Karena yang menentukan bayi itu laki-laki atau perempuan adalah sperma ayah. Tapi, namanya juga mitos, sah-sah saja berlaku di tengah masyarakat. Yang jelas, mitos ini berkembang dari mulut ke mulut dan akhirnya cenderung dipercaya sebagai sebuah kebenaran.
Toh kita tak bisa percaya begitu saja. Setiap larangan atau anjuran, tetap harus ada alasannya. Apalagi zaman sekarang ini kita bisa mengkonsultasikan masalah kehamilan dengan dokter atau bidan. “Ibu muda tidak akan menemukannya di buku atau kamus,” tutur dr. Judi Januadi Endjun, Sp.OG, dari RSPAD Gatot Subroto.
Nah, apa saja mitos-mitos yang biasa kita dengar dan bagaimana penjelasannya secara akal sehat dan juga medis?
BERKAITAN DENGAN PERILAKU
* Wanita hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab, jika itu dilakukan, bisa menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu. Tentu saja tak demikian. Itu cuma takhayul saja. Tapi, yang perlu diingat, membunuh atau menganiaya binatang adalah perbuatan yang tak bisa dibenarkan.
* Dilarang menutup lubang-lubang, seperti lubang semut karena akan menyulitkan proses persalinan. Sulitnya persalinan tentu saja bukan ditentukan hal itu. Seperti kita tahu, proses persalinan tergantung pada 3P (power, passage, passanger). Proses persalinan bisa berjalan lancar jika ketiga komponen tersebut dalam kondisi baik. Ukuran bayi (passanger) tak terlalu besar agar bisa melalui jalan lahir (passage). Didukung oleh konstraksi (power) yang teratur dan efektif sehingga mampu membuka jalan lahir.
* Harus memakai tali/benang warna hitam melingkari perut di atas rahim agar bayi dalam kandungan tak naik lagi letaknya sehingga proses persalinan bisa berjalan lancar.Agar dipahami dengan jelas, letak bayi mengalami tahapan-tahapan. Kepalanya akan masuk ke rongga panggul menjelang dan pada saat proses persalinan.
* Ibu hamil disarankan memasang gunting kecil atau pisau kecil pada pakaian dalam agar janin terhindar dari marabahaya.Yang bahaya justru bila gunting atau pisau kecil itu menusuk kulit ibu. Betul, kan?
* Menyematkan kantung kecil bersisi paku atau bawang putih pada pakaian dalam agar terhindar dari gangguan kuntilanak.Wah, yang ini, jelas-jelas takhayul. Salah-salah paku tersebut dapat melukai ibu.
* Ibu hamil dilarang melilitkan handuk di leher agar anak yang dikandungnya tak terlilit tali pusat.Ini pun jelas mengada-ada karena tak ada kaitan antara handuk di leher dengan bayi yang berada di rahim.
Penjelasan secara medis, seperti diterangkan dr. Judi, hiperaktivitas gerakan bayi, diduga dapat menyebabkan lilitan tali pusat karena ibunya terlalu aktif. Jadi, tak heran bila ada anjuran agar ibu hamil sudah mengambil cuti sebulan menjelang persalinan. Diharapkan ibu tak terlalu lelah, agar hal-hal yang tak diharapkan tak terjadi menjelang persalinan. Dan bisa mempersiapkan segala keperluan untuk bayi dan ibu sendiri.
* Agar persalinan lancar, pada Upacara 7 Bulanan, calon ibu dan calon ayah diminta meloloskan ikan/belut melalui kain sarung yang dikenakan ibu. Jika ikan/belut keluar dengan lancar (tak menyangkut), pertanda persalinan bakal lancar. Tentu saja itu tak benar. Karena, seperti sudah disebutkan di atas, lancar-tidaknya sebuah proses persalinan tergantung pada berat janin, tenaga mengejan si ibu, dan jalan lahir. Jika semuanya saling mendukung, bisa ditebak pasti lancar.
* Jika mengendurkan semua tali yang ada di rumah, persalinan akan berjalan lancar. Yang ini juga tak masuk akal. Yang benar, jika ibu menggunakan pakaian longgar (tanpa tali-tali yang mengikat), ia akan merasa lebih nyaman. “Sehingga kenyamanan tersebut membuatnya bisa rileks menjalani kehamilan dan menyambut kelahiran,” kata dr. Judi.
* Tabu jika sudah menyiapkan perlengkapan bayi sebelum bayi lahir. Ah, yang benar saja. Alangkah repotnya jika semua perlengkapan baru dibeli saat si kecil sudah lahir. Yang pasti, jangan terlalu boros dulu. Jadi, yang disiapkan hanya hal-hal yang benar-benar diperlukan dalam jumlah secukupnya.
* Jika ibu hamil senang bersolek maka bayinya yang bakal lahir, berjenis kelamin perempuan.Ini tak sepenuhnya benar. Memang, bawaan ibu hamil berbeda-beda. Ada yang lebih suka berdandan agar terkesan rapi. Ada yang malas bersolek karena perut gendutnya sudah cukup membuatnya repot dan kegerahan.
Yang jelas, laki-laki atau perempuan ditentukan oleh sperma ayah. Jika kromosom X dari sperma ayah bertemu dengan kromosom X dari sel telur ibu, maka bayinya dipastikan perempuan. Tapi jika kromosom Y dari sperma ayah bertemu dengan kromosom X dari sel telur, maka bayinya laki-laki.
* Jika bentuk perut ibu selama hamil meruncing, ia akan melahirkan bayi lelaki. Sementara jika bundar, yang akan lahir bayi perempuan. Ah, yang ini sih cuma kata nenek saja. Pada kehamilan pertama, perut cenderung membulat di atas. “Karena otot-otot dinding perut masih kuat sehingga mampu menyangga rahim,” papar dr. Judi. Sedang pada kehamilan berikutnya yang bertambah besar dan berat cenderung turun ke bawah. Ini disebabkan otot-otot dinding perut sudah mulai kendor dan tak terlalu baik menyangganya.
Bisa juga disebabkan posisi bayi. “Jika melintang, bisa dipastikan perut ibu melebar ke samping,” kata dr. Judi. Begitu pun jumlah cairan ketuban. Jika jumlahnya banyak, perut pun kelihatan lebih besar.
* Saat hamil jangan mengangkat jemuran dan jangan melakukan gerakan mengangkat. Konon jika ini dilakukan, tali pusatnya akan membelit di leher bayi.Yang benar, mengangkat barang-barang berat tentu saja tak dianjurkan bagi ibu hamil. Dikhawatirkan jika ia terlalu lelah, akan mempengaruhi janin dalam perutnya.
* Ibu hamil tak boleh makan dengan piring yang besar agar anaknya tak besar. Tentu saja ini sangat menggelikan. Mungkin saja jika makan dengan piring besar membuat ibu lupa pada porsi makannya sehingga akhirnya ia makan berlebihan. Dan tentu saja ini tak baik, karena akan membuat bayi terlalu besar.
Cara makan yang baik bagi ibu hamil adalah sedikit-sedikit tapi sering serta mengandung makanan 4 sehat 5 sempurna.
* Tak boleh makan menggunakan sendok besar, agar bibir si bayi mungil.Ini juga tak masuk akal. Mungil atau tidaknya bibir, juga bentuk mata, alis, hidung, bentuk wajah, rambut, dan sebagainya, akan mengikuti ayah atau ibunya. Atau kombinasi keduanya. Bahkan, dapat saja wajah atau rambut bayi mengikuti kakek-neneknya. Yang jelas, Tuhan tak pernah membuat dua manusia yang mirip seratus persen.
BERKAITAN DENGAN MAKANAN / MINUMAN
* Wanita hamil dianjurkan minum minyak kelapa (satu sendok makan per hari) menjelang kelahiran. Maksudnya agar proses persalinan berjalan lancar.Lo, kok, minum minyak? Minyak itu, kan, digunakan untuk menggoreng. Entah itu tempe atau kerupuk. Jangan percaya ah! Semua unsur makanan akan dipecah dalam usus halus menjadi asam amino, glukosa, asam lemak, dan lain-lain agar mudah diserap oleh usus.
* Jangan minum air es agar bayinya tak besar. Sebenarnya, yang menyebabkan bayi besar adalah makanan yang bergizi baik dan faktor keturunan. Minum es tak dilarang, asal tak berlebihan. Karena jika terlalu banyak, ulu hati akan terasa sesak dan ini tentu membuat ibu hamil merasa tak nyaman. Lagipula segala sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tak baik. Begitu, bukan?
* Jangan makan ikan mentah agar bayinya tak bau amis. Bayi yang baru saja dilahirkan dan belum dibersihkan memang sedikit berbau amis darah. Tapi ini bukan lantaran ikan yang dikonsumsi ibu hamil, melainkan karena aroma (bau) cairan ketuban. Yang terbaik, tentu saja makan ikan matang. Karena kebersihannya jelas terjaga ketimbang ikan mentah.
* Jangan makan buah stroberi, karena mengakibatkan bercak-bercak pada kulit bayi.Ini jelas omong kosong. Tak ada kaitan bercak pada kulit bayi dengan buah stroberi. Yang perlu diingat, jangan makan stroberi terlalu banyak, karena bisa sakit perut. Mungkin memang bayi mengalami infeksi saat di dalam rahim atau di jalan lahir, sehingga timbul bercak-bercak pada kulitnya.
hamil setiap orang akan memberikan saran , nasehat , pantangan apa yang boleh - tidak boleh. Tapi seberapa jauhkah kebenaran dari MITOS ini?—–
Saat seorang wanita hamil, maka biasanya akan banyak mendapat banyak nasehat – nasehat dari kerabat, keluarga, teman juga dari orang sekelilingnya, tentang apa yang boleh dan tidak boleh selama kehamilan anda.
Walaupun maksud dari mereka semuanya adalah baik tetapi tidak semua dari nasehat atau pantangan kehamilan yang diberitahukan itu benar secara medis maupun ilmiah. Kebanyakan hanya berdasarkan mitos atau kepercayan saja daripada kenyataannya.
Oleh karenanya bila anda hamil sebaiknya selalu menkonfirmasikan informasi yang anda dapatkan dengan dokter atau referensi buku yang dapat dipercaya, sehingga anda mengetahui apa kebenarannya dan tidak hanya mengikuti sesuatu yang anda sendiri tidak mengetahui alasannya / kenyataannya.:-)
BEBERAPA MITOS KEHAMILAN & FAKTA:
- Tidak boleh memotong atau menjahit baju.
Mitos: Tidak boleh memotong atau menjahit baju selama kehamilan atau anak akan lahir dengan bibir sumbing.
Fakta: Bibir sumbing biasanya karena pengaruh obat-obatan yang diminum ibu saat hamil, efek radiasi atau factor genetic. Oleh karenanya x-ray tidak dilakukan selama kehamilan kecuali atas indikasi tertentu.
- Minuman dari kacang kedeai (susu kacang) akan membuat kulit bayi bewarna putih.
Mitos: minum susu kacang atau makanan dari kacang kedelai akan membuat bayi berkulit putih.
Fakta: warna kulit seseorang dipengaruhi oleh factor genetic ayah – ibunya, bukan dari susu kedelai.
- Jeruk akan meningkatkan lendir pada bayi dan resiko kuning pada bayi baru lahir.
Mitos: Jangan makan jeruk terlalu sering akan meningkatkan lendir pada paru bayi dan resiko kuning saat bayi lahir.
Fakta: Jeruk adalah sumber vitamin C dan serat yang baik.
- Minum air es akan menyebabkan bayi besar.
Mitos: Sering minum es saat hamil menyebabkan bayi besar dan akan sulit lahir.
Fakta: Bayi besar biasanya berhubungan dengan ibu hamil yang mempunyai penyakit kencing manis. Jadi mungkin es ini diminum oleh ibu hamil yang memang dengan riwayat penyakit kencing manis. Jadi bukan minum es lalu menyebabkan bayi besar karena air es akan dikeluarkan oleh tubuh sebagai keringat atau air seni.
- Makanan pedas akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak kulit kemerahan atau berkulit lebih gelap.
Mitos: Makan makanan pedas saat hamil akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak kulit kemerahan atau bayi akan berkulit lebih gelap/hitam.
Fakta: Sekali lagi warna kulit seseorang tidak ditentukan oleh makanan pedas, tapi factor genetic dari orang tuanya. Dan faktanya bahwa makan makanan pedas saat hamil, membuat rasa tak enak diperut apalagi bila anda sedang mual, jadi bukan karena menyebabkan bercak kemerahan pada kulit.
Banyak lagi mitos kehamilan lainnya yang terdapat dalam masyarakat kita. Ketika anda sedang hamil dan mendapatkan berbagai nasehat atau pantangan, ingatlah untuk selalu mendapatkan fakta dan kebenaran secara medis atau ilmiahnya. Anda dapat bertanya kepada dokter anda untuk memastikannya sebelum anda hanya sekedar mengikutinya saja
ASAL-USUL
KAMPUNG TOTOGAN, KETELAN, BANJARSARI.
Pengantar.
Kampung totogan, disini saya akan mencoba menguraikan tentang seluk beluk kampung totogan, mulai dari awal mula bagaimana kampung ini mulai terbentuk, bagai mana latar belakangnya, realita kependudukan yang ada di daerah tersebut, etnis, budaya yang berkembang dan akan saya coba untuk menukliskan mitos-mitos yang berkembang didaerah ini.
Dalam tulisan ini yang coba saya uraikan adalah sebuah penuturan dari seorang penduduk asli yang telah menetap sejak Indonesia masih di jajah oleh jepang dan sekarang sudah turun-temurun mendiami daerah ini, untuk memperoleh informasi, saya berkunjung ke kampung totogan, saya ingin melihat kehidupan di kampung ini dari dekat dan mencoba mengerti bagaimana keadaan kampung ini, lalu saya berkunjung ke sebuah rumah penduduk dan dengan rasa syukur saya diterima dengan baik di rumah tersebut.
Dan dibawah ini adalah hasil informasi yang dapat saya peroleh dari silaturahmi dan wawancara singkat dari yang bersangkutan mengenai seluk-beluk, aktivitas penduduk, mitos yang berkembang di kampung totogan.
PEMBAHASAN MASALAH
Dalam penulisan sejarah ini tentu tidak semua permasalahan dapat saya tuliskan karena keterbatasan waktu dan dan biaya. Disini saya hanya membatasi tulisan saya penulisan ini perlu dibatasi objeknya agar dapat menghasilkan sebuah tulisan yang enak dibaca dan permasalahannya tidak melebar dalam pembahasan. masalah-masalah yang menjadi fokus pada pembahasan ini adalah mengenai asal-usul kampung Totogan beserta semua hal yang berkaitan dengan sosial-budaya dari daerah tersebut.
Dalam penulisan ini saya menggunakan beberapa metodologi dan pendekatan. Pendekatan sosial untuk menggambarkan kehidupan sosial di kampung tersebut seperti lingkungan sosial yang menjadikan kampung ini dikenal sebagai ‘kampung preman’, mata pencaharian penduduk sekitar, keadaan keagamaan, dan sistem birokrasi yang digunakan dikampung ini. Sedangkan pendekatan budaya digunakan untuk memaparkan semua yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan, yaitu agama, kesenian dan mitos yang terdapat di daerah tersebut.
Asal-usul daerah.
Dahulu daerah ini adalah semak belukar yang tak terawat, pada suatu ketika datanglah sebuah keluarga yang tidak mempunyai tanah dan tempat tinggal, melihat daerah tersebut tidak terawat maka daerah itu di bersihkan atau “dibabati” dari semak belukar, lalu mereka sekeluarga menetap di situ dan akhirnya melahirkan sebuah klan yang meninggali daerah tersebut, sampai sekarang pun, yang menempati daerah ini kebanyakan masih sedulur.
Asal-usul nama daerah.
Kampung ini terletak di Kecamatan Banjarsari kelurahan ketelan, kampung totogan. Terletak disebelah barat belakang pura mangkunegaran. Totogan merupakan sebuah nama yang diberikan oleh penduduk sekitar karena letaknya yang menjadi totogan jalan dari raya sebelah barat pura mangkunegaran dan juga berbatasan langsung dengan sungai Pepe, awalnya penduduk daerah tersebut menyebut daerah ini notog, namun karena tidak terdengar bagus untuk di ucapkan untuk sebuah nama kampung, akhirnya berubah menjadi TOTOGAN dan sampai sekarang tidak mengalami perubahan atas pemakaian nama kampung tersebut.
Keadaan sosial masyarakat.
Dahulu kampung ini hanya dihuni oleh keluarga dari klan yang sama, namun karena perkembangan kehidupan dengan mulainya kehidupan masyarakat totogan yang dinamis perlahan-lahan mulai berkurang kekentalan klan yang dahulu pertama kali mendiami kampung ini, penyebarannya mulai dari pernikahan, masyarakat totogan mulai menikahi orang dari luar daerah, namun persaudaraan mereka masih sangat terlihat kuat karena kesadaran bahwa penduduk daerah ini adalah sedulur.
Masyarakat daerah solo tentu mmengenal kampung totogan, bahkan mungkin lebih dari itu. Notabe yang selama ini melekat pada kampung totogan sebagai kampung “preman” yang ditakuti oleh masyarakat. Sempat sebelum saya datang kekampung ini saya menanyakan kampung ini kepada kawan yang memang asli penduduk solo, ekspresi yang muncul sungguh mengejutkan saya, ketika saya menyebut kampung totogan dia secara reflek menyebutkan “ wah pusate preman ” tentu saja dalam hati saya bertanya akan kebenarannya.
Setelah sampai di kampung totogan saya menanyakan perihal apa yang terjadi dengan ini, lalu beliau menceritakan bagaimana awal sejarah kampung ini dimulai, sebenarnya tanah kampung totogan adalah tanah yang sejak didiami sampai pada tahun tahun awal 2006 merupakan tanah illegal atau penduduk daerah itu tidak ada yang memiliki sertifikat tanah, jadi mereka setiap saat dapat terancam penggusuran atau sejenisnya, bahkan diserang oleh kelompok masyarakat lain untuk mengambil alih tanah tersebut.
Maka dari itu, ada semacam semangat agar ditakuti dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab setidaknya berpikir dua kali apabila ingin membuat kekacauan di kampung ini. Maenurut kesaksian penduduk totogan memang dulu sering terjadi perkelahian masyarakat, sering pada malam hari kampung ini didatangi oleh gerombolan bersepeda motor sambil membawa senjata tajam, namun kadang masyarakat totogan pun sering melakukan ini untuk membalas bila diserang oleh kelompok masyarakat lain.
Namun setelah pemutihan sertifikat tanah yang dilakukan oleh pemerintah surakarta di bawah kepemimpinan Joko widodo yang melegalkan pemukiman dikampung totogan pada pertengahan tahun 2006 secara Cuma-Cuma sedikit mengurangi aksi-aksi kekerasan dikampung totogan. Walau pun tidak berubah secara drastis namun memberikan dampak kejiwaan yang positif terhadap masyarakat totogan.
Walupun dengan masyarakat daerah lain masyarakat totogan sering terlibat kerusuhan dan kekerasan, namun hubungan antar masyarakat totogan berlangsung harmonis. Baik antara suku jawa maupun suku pendatang, keadaan suku dan etnis didaerah masih didominasi oleh suku jawa, terlihat mayoritas penduduk 92% adalah penduduk lokal alias suku jawa, dan 7% adalah penduduk pendatang yang mayoritas adalah bangsa china.
Keagamaan di kampung totogan.
Kegiatan keagamaan di kampung totogan berjalan dengan baik, perbedaan keyakinan tidak membuatkampung ini terbelah semua saling menghormati, dan sampai sekarang tidak pernah ditemukan konflik yang diakibatkan oleh perbedaan agama. Agama mayoritas yang dipeluk masyarakat totogan adalah Islam, dengan prosentase 75% beragama Islam dan 25% beragama nasrani.
Sistem Birokrasi di kampung Totogan.
Masyarakat totogan yang sudah mobile kehidupannya telah berhasil menata sistem birokrasi dengan baik, dulu jabatan semacam Rt harus dipegang oleh penduduk asli, bukan pendatang namun sekarang sudah tidak berlaku lagi. Syarat untuk masuk dalam birokrasi yang dulu harus penduduk asli sekarang telah berganti, dengan haru amanah dan dapat dipercaya serta mampu jadi pemimpin bagi masyarakat totogan, bahkan ketua Rt yang sekarang menjabat adalah pendatang yang menikah dengan wanita setempat dan menetap disana.
Mata pencaharian masyarakat Totogan.
Kehidupan yang terus berubah menuju lebih baik, seakan ikut membuat masyarakat totogan berpikiran untuk memperbaiki nasib. Masyarakat pun kian beragam usahanya dalam mengusahakan kehidupan mereka, berbagai profesi dapat ditemukan disini, dan mayoritas adalah pekerja swasta. Di kampung ini juga ditemukan sebuah apotik milik pengusaha china yang dikelola oleh penduduk sekitar.
Mitos-mitos yang berkembang di kampung Totogan.
A. Mitos “ penunggu ” sungai Pepe.
Kepercayaan tentang “ kehidupan lain ” yang berada berada disekitar kehidupan masyarakat Jawa sangat dipercayai keberadaannya membuat Orang Jawa begituberhati-hati dan penuh perhitungan dalam setiap kegiatan yang dilakukan, ini pula yang terjadi dalam keseharian masyarakat totogan yang memang notabenya kehidupan mereka berada di sekitar pura mangkunegaran.
Saat saya menanyakan perihal mitos atau kepercayaan gaib yang melingkupi daerah totogan, narasumber langsung menceritakan beberapa kejadian yang menimpa daerah totogan dan sekitarnya, adapun cerita kejadian mistis yang terjadi adalah sebagai berikut: “ pada waktu perbaikan daearah aliran sungai Pepe yang tepatnya berada di belakang kampung, sungai pepe ketika dulu adalah tempat yang kotor dan di penuhi semak, masyarakat mengenal lingkungan sungai itu sebagai sarang ular, kala jengking, dan binatang berbisa dan berbahaya lain.
Saat proyek pembangunan dan pembersihan daerah aliran sungai Pepe ini berlangsung dan sampai ke tempat tersebut, mesin berat semacam mobil excavator yang digunakan untuk membersihkan semak ketika pekerjaan baru dimulai dan baru membersihkan ¼ daerah tersebut tiba-tiba mesinnya mati, padahal pada pekerjaan sebelumnya tidak penah ada kejadian semacam mesin tiba-tiba mati seperti ini, para pekerjapun berusaha menghidupkan mesin itu namun selalu gagal, padahal mesin dalam keadaan baik dan siap untuk bekerja.
Kemudian mandor proyek pembersihan pun menanyakan perihal lingkungan yang sedang dikerjakannya ini kepada penduduk lokal yaitu penduduk totogan apakah lingkungan ini memiliki keanehan mengingat daerah tersebut paling kotor dan paling banyak pohon dan semak belukarnya, lagi pula daerah ini dekat dengan pura mangkunegaran yang memang menurut kepercayaan orang jawa mempunyai kekuatan “magis”.
Lalu penduduk sekitar menyarankan untuk menemui seorang paranormal yang memang bertempat tinggal dan mengetahui seluk beluk “ dunia lain” daerah tersebut, kemudian paranormal itu mendatangi tempat proyek pembersihan tersebut dengan membawa sesajen dan melakukan beberapa ritual, dan ajaibnya setelah sesajen diletakkan didaerah tersebut dengan disertai beberapa ritual, dengan mudah mesin-mesin berat itu dapat dinyalakan dan akhirnya pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.
Menurut paranormal yang menangani kasus ini, kejadian tersebut dikarenakan yang bertanggung jawab atas proyek pembersihan sungai ini tidak meminta izin kepada “ penunggu ” daerah sungai ini, yang menyebabkan seng mbaurekso marah dan merasa terganggu dengan kegiatan yang sedang berlangsung kemudian mematikan semua mesin dengan maksud ingin menunjukkan eksistensi bahwa “ mereka ” ada dan ingin dihormati, atau barang kali memberikan salam sebagai tanda saling menghargai kehidupan masing-masing yang sama sekali tidak dilakukan oleh penanggung jawab proyek ini.
B. Mitos Jembatan dan mBelik Tempuran.
Perayaan pernikahan dan hajat-hajat lain bagi masyarakat Jawa merupakan suatu peristiwa yang cukup potensial untuk menunjukkan eksistensi dan juga ajang silaturahmi yang disana semua sanak saudara dengan kesadaran penuh bersedia membantu apapun selama masih bisa diusahakan, begitulah tradisi yang selama ini menaungi kehidupan masyarakat Jawa.
Pada perayaan seperti ini bagi masyarakat totogan mempunyai tradisi harus menyerahkan sebuah persembahan berupa sesajen yang harus diletakkan di sekitar mbelik dan jembatan totogan, mbelik ini terletak di aliran sunagi Pepe dan terletak didekat jembatan tempuran. Kebiasaan ini diyakini masyarakat sekitar sudah dilakukan oleh leluhur mereka sejak menempati daerah totogan ini.
Mereka percaya bahwa bila kegiatan ini tidak dilakukan acara pernikahan atau hajatan yang dilakukan tidak akan berjalan dengan lancar karena yang “menunggu” mbelik marasa tidak dihargai. Mayarakat sekitar percaya itu akan mendatangkan Bala untuk acara maupun pengantin yang untuk kehidupan mereka selanjutnya.
C. Mitos bangunan rumah yang bangunan atapnya menyerupai kursi.
Rumah adalah tempat akhir tercurahkannya semua kegiatan manusia. Di rumah pula manusia menata kehidupannya, bagai mana ia akan melangkah untuk kehidupan esok hari. Walaupun manusia selalu di sibukkan dengan kegiatan dunia dan hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk keluarganya sendiri, tapi manusia selalu punya waktu untuk pulang, mengunjungi rumah dan melepaskan penat .
Namun apa jadinya bila rumah yang seharusnya menjadi tempat peraduan tersebut malah membuat rencana masa depan, kehidupan pribadi manjadi kacau dan membuat hidup manusia hancur, jangankan untuk mencapai hidup kaya dan tentram, tercukupi biaya kehidupannya saja sudah sangat bersyukur.
Dikampung totogan peristiwa ini terjadi, seorang pengusaha china yang bergerak dibidang rokok mengalaminya, ketika ia belum membangun rumah tersebut, ia dengan perlahan-lahan namum pasti berhasil mencapai kekayaan, lalu sang pengusaha membangun sebuah rumah di kampung totogandengan konsep atap ( bangunan rangka genting ) mirip kursi namun terbalik.
Sebenarnya sang pengusaha itu telah dinasehati untuk merubah konstuksi atapnya namun tidak di ia kan oleh sang pengusaha, akhirnya sang pengusaha pun mengalami kebangkrutan, entah apa yang terjadi, namun lama kelamaan seakan keberutungan menjauhi pengusaha tersebut. Kerja kerasnya bertahun-tahun seakan hilang sedikit-demi sedikit, walaupun tidak jatuh miskin namun seakan-akan nasibnya jatuh-bangun, padahal untuk usaha sebesar itu barang kali sudah membuat ia hidup mewah, tapi itu tidak terjadi.
Menurut paranormal yang dahulu menasehatinya, konstrusi atap nya seperti kursi terballik dan miring, ini mengandung filosofi bahwa siapa saja yang berada di kursi ini (rumah) ketika duduk akan selalu terpeleset kebawah dan tidak akan dapat duduk dengan tenang, hidupnya akan selalu jatuh bangun seperti oaring yang mau menduduki kursi tersebut. Sebagian yang lain menafsirkan bahwa bangunan ini tidak akan berjalan seiring lingkungan, pura mangkunegaran yang tepat berada didepan rumah ini, melambangkan “kursi” kedudukan Raja yang kuat, berbanding terbalik dengan keadaan rumah yang mirip kursi terbalik dan miring ini, yang diyakini sebagai pembuat nasib buruk yang menimpa sang pengusaha.
Kesimpulan.
Kampung totogan adalah kampung yang awalnya hanya terdiri dari sebuah klan yang mendiami daerah ini, kemudian berkembang dan beranak-pinak hingga sekarang. Dan dibawah ini adalah data yang berhasil saya simpulkan dari penelusuran saya:
1. Kampung totogan adalah sebuah kampung yang terletak dengan posisi notog dari jalan samping barat pura mangkunegaran.
2. keadaan sosial masyarakat disana cukup kondisif bagi penduduk daerah sekitar.
3. cerita mitos yang terjadi di daerah setempat merupakan kejadian nyata yang di asumsikan sebagai kejadian dari dunia lain yang terjadi akibat ulah manusia yang kurang tertata.
Saran.
Dari kejadian yang melingkupi daerah totogan adalah sebuah refleksi dari kebudayaan Jawa yang selalu mengarah kepada kesederhanaan hidup dan keramah-tamahan terhadap alam sehingga diharapkan mayarakat jawa dalam menjalani kehidupan dapat selaras dan tidak membuat kerusakan dimuka bumi.
Identitas sumber wawancara:
Nama : Hadi suwarno
Alamat : Totogan Rt. 3 Rw. 6 Ketelan, Banjarsari, Solo.
Nama : Susanto.
Alamat : Totogan Rt. 3 Rw. 6 Ketelan, Banjarsari, Solo.
Sumur Mbah Meyek, antara mitos dan realita (sebuah pelajaran berharga tentang air)
Menurut cerita, Kampung Bibis erat kaitannya dengan riwayat salah seorang putri Raja Pajang Sultan Hadiwijaya dari garwa selir Dewi Setya Arum Sari Hastutiningsih, yaitu Dyah Sri Widyawati Ningrum.Menurut Padi, salah seorang tetua kampung, suatu saat Dyah Sri Widyawati diusir dari keraton oleh Sultan Hadiwijaya, karena dituduh berbuat serong dengan abdi dalem. Ternyata, tidak hanya dia saja yang pergi dari keraton, Ibunya juga ikut menyertai kepergian anak perempuannya itu.
Karena murka, Sultan Pajang meminta prajurit kerajaan untuk membuntuti kepergian dua puteri keraton itu dan harus dibunuh. Pelarian puteri Dyah Widyawati dan ibunya ke timur kota Pajang sampai ke pinggir Kali Pepe. Keduanya lalu menaiki gethek (perahu dari bambu) untuk menyeberangi sungai tersebut. Maksudnya untuk melanjutkan pelarian ke utara. Namun, para prajurit berhasil menyusul, meski ketika itu gethek sudah sampai ke tengah sungai. Para prajurit kemudian melepaskan panah tombak, dan mengenai dada Dewi Setya Arum. Bersamaan dengan kejadian itu, tiba-tiba terjadi hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Gethek yang dinaiki terkena petir sehingga hancur. Anehnya, tempat itu mendadak menjadi gelap gulita, sehingga para prajurit memilih pulang ke keraton. Apalagi saat itu mereka merasa kedua puteri itu dipastikan sudah tewas terkena tombak.
Tewaskah kedua puteri itu? Ternyata menurut cerita yang diyakini, Dewi Setya Arum hilang bersama raganya (musna sak ragane), sedangkan Dyah Widyawati terlempar ke daratan bersama dengan gethek yang hancur itu.”Gethek yang rusak itu sampai meyek-meyek, sedangkan puteri Dyah Widyawati akhirnya pilih menetap di sebuah tempat, yang kemudian disebut Kampung Meyek.
. Di situ juga terdapat sebuah sumur kecil yang biasa disebut belik, yang juga disebut belik Meyek. Nama Meyek diambil dari kondisi gethek yang hancur dan kondisinya meyek-meyek. Maka sang puteri pun disebut Mbah Meyek,
Lain riwayat mengatakan, langkah Dyah Widyawati yang meyek-meyek karena kelelahan setelah berlari-lari dikejar prajurit, serta kelelahan karena terlempar dari sungai itu, yang kemudian memunculkan julukan Mbah Meyek. Dia kemudian menjadi pertapa bernama Dhundha Badhundha
Asal usul Kampung Bibis
Kenapa kemudian disebut Kampung Bibis? Ternyata ada riwayat lanjutannya. Saat itu ada seorang kiai yang nenepi (tirakat) di Kampung Meyek itu. Kiai itu kemudian ditemui pertapa Dhundha Badhunda, dan diberi beberapa pesan. Pertama dia diberi obat untuk anaknya yang sakit, berupa air yang diambilkan dari belik Meyek.
Kedua, jika ingin Kampung Meyek menjadi makmur harus diganti namanya menjadi Kampung Bibis. Selanjutnya, setiap tahun sekali, tepatnya pada hari Selasa Kliwon di bulan Sura, harus mengadakan sedekah desa dan wayangan di malam Jumat Pon. Pesan itu hingga sekarang dilaksanakan warga sekitar. Setiap menjelang hari itu di bulan Sura, diadakan bersih desa, masyarakat bekerja bakti bersama membersihkan belik Meyek dan sekitarnya. Juga kemudian digelar wayang semalam suntuk, bahkan sebelum pagelaran dimulai wayang yang akan digunakan ki dalang terlebih dulu dikirab keliling kampung. Sedangkan sebutan Kampung Meyek berganti menjadi Kampung Bibis.
Riwayat lain mengatakan, disebut Kampung Bibis karena di situ juga terdapat banyak burung Belibis. Hanya saja karena sekarang sudah berubah menjadi perkampungan, tidak ada lagi burung belibisnya.
Arti Penting dari Menjaga Kelestarian Air
Kebudayaan Jawa yang berakar pada tradisi agraris perkembangannya juga tidak lepas dari dinamika masyarakatnya dalam mengelola air sebagai suatu yang sakral dan agung, sehingga terikat dengan mitos dan kepercayaan masyarakatnya. Banyak cerita rakyat yang juga berhunungan dengan keberadaan air, seperti cerita tentang terjadinya Telaga Ngebel dan Rawa Pening.Penghormatan terhadap air juga nampak dalam masyarakat desa, yang secara tradisional selalu menghubungkan keberadaan air dengan pedahnyangan desa yang selalu berwujud sumber air. Sama ketika di Kampung Kandang Sapi terdapat sebuah Sendang dan Di kampung Bibis Terdapat dua buah sumur, yaitu Sumur Mbah Meyek dan yang penulis temukan lainnya adalah Sumur Mbah Mbandung.
Masyarakat percaya bahwa pedahnyangan desa ini merupakan tempat bersemayamnya arwah leluhur yang merupakan cikal bakal desa yang akan terus mengawasi dan menjaga ketentraman desa. oleh karena sumber air merupakan tempat bersemayamnya pedahnyangan desa maka pelestarian lingkungan sumber air tetap harus dijaga oleh seluruh warga desa, seperti yang terjadi di desa bibis, diadakan bersih desa.
Air ternyata tidak saja menjadi sumber kehidupan bagi manusia melainkan juga faktor pendorong munculnya peradaban manusia. kehadiran air dalam kehidupan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebab apabila terlalu berlebih bisa menjadikan sebuah bencana, sebaliknya jika kekurangan juga bisa mengakibatka bencana. untuk itu sentuhan budi dan daya manusia sangat diibutuhkan agar kebutuhan akan air bisa tercukupi sesuai dengan yang diinginkan manusia.
Nama : Haryo Pabancono
NIM : C0508032
Sejarah Eropa
5. Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.
Nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Fasisme adalah pengaturan pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh suatu kediktatoran partai-tunggal yang sangat nasionalis,rasialis,militeris,dan imperialis.
Sosialisme adalah Paham tentang masyarakat yang lebih umum. Semula, kata itu merupakan nama untuk hasrat dan gerakan yang ingin membangun masyarakat yang adil dan bebas, dengan keyakinan bahwa sumber segala ketidakadilan adalah hak milik pribadi dan itu harus dihapuskan .
Nazi : Partai fasis jerman yang berkuasa dari tahun 1933 sampai dengan tahun 1945 di bawah adolf hitler
Komunisme: Komunisme adalah Suatu paham anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata dan sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya
1. Pengantar
Dalam penulisan tentang sejarah lokal ini saya menulis tentang sejarah Kampung Laweyan. Sejarah mengenai Kampung laweyan ini sangat banyak dan legendaris karena Kampung laweyan sendiri bahkan usianya lebih tua dari Keraton Kasunanan pecahan dari Kerajaan Mataram, berkat Ki Ageng Henis yang mengajari penduduk di desa yang akhirnya dinamakan desa Laweyan akhirnya Laweyan identik dengan kampung Batik karena selain menyebarkan agama Islam,KI Ageng Henis yang juga nenek moyang dari Raja Raja Mataram mengajarkan batik yang pada akhirnya merupakan identitas utama dari laweyan,sehinggap Kampung Laweyan terkenal dengan nama Kampung Batik Laweyan.
Mitos mitos di Laweyan juga sangat terkenal seperti mitos bau Laweyan yang sangat memojokkan wnaita yang di sebut titisan Bau Laweyan,karena apabila ada keturunan bau laweyan yang menikah maka pasangannya tersebut pasti mati mengenaskan.
Penduduk Laweyan merupakan suatu Komunitas yang sangat erat dan banyak yang masih ada hubungan darah,karena banyak penduduk laweyan yang menikah dan hal itu membuat usaha mereka yang sama saudagar batik menjadi besar dan hal itu membuat usaha batik mereka yang bergabung menjadi besar.
2. Pembahasan Masalah
Pada Pembahasan masalah tentang Kampung Laweyan saya membahas tentang kampung laweyan yang identik dengan kampung batik,sebagian besar penduduknya merupakan saudagar batik yang sangat terkenal di Indonesia, di Laweyan banyak situs situ sejarah yang sangat terkenal seperti makam Ki Ageng Henis yang merupakan leluhur dari raja raja Mataram dan adanya petilasan kerajaan pajang di daerah Pajang,dekat tugu lilin.
Di Daerah Laweyan juga ada mitos speerti Bau Laweyan dan menziarahi makam keramat Laweyan yang merupakan makam dari Ki Ageng Henis, penduduk Laweyan mempunyai hubungan yang snagat eraqt dan banyak yang masih mempunyai hubungan darah karena mereka menikah dengan tetangganya sendiri sesama saudagar batik.
Dengan pendekatan Sosial dan Budaya disini saya akan meneliti dan menulis tentang struktur sosial masyarakat tradisional Laweyan dan mitos mitos yang terkenal di laweyan tersebut,karena di Laweya sebenarnya sangat banyak sejarah sejarah yang terkenal tetapi hanya sebagian saja yang saya bahas di dalam penulisan ini.
Sejarah Kampung Laweyan Surakarta
A. Asal Mula Kampung Laweyan
Kampung Laweyan sudah ada sejak tahun 1500 sebelum masehi. Dan sejak kerajaan Pajang, Laweyan yang berasal dari kata Lawe (bahan sandang) telah menjadi pusat perdagangan bahan sandang seperti kapas dan aneka kain. Laweyan semakin pesat ketika Kyai Ageng Henis (keturunan Brawijaya V) dan cucunya yaitu Raden Ngabehi Lor Ing Pasar/ Sutawijaya yang kelak menjadi raja pertama Mataram bermukim di Laweyan tahun 1546 M. Kyai Ageng Henislah yang kemudian mengajarkan cara membuat batik kepada masyarakat Laweyan.
Lama kelamaan Laweyan berkembang menjadi pusat industri batik sejak jaman kerajaan Mataram. Dulu para saudagar batik yang tinggal di Laweyan membangun rumah besar-besar dengan tembok menjulang. Para juragan batik juga membangun lorong atau jalan rahasia di dalam rumah mereka menuju rumah juragan batik lainnya di Laweyan. Kabarnya ketika itu mereka bersikap berseberangan dengan pihak keraton. Sehingga lewat jalan-jalan rahasia mereka bisa leluasa melakukan pertemuan-pertemuan dengan sesama saudagar batik untuk membahas kondisi sosial politik saat itu.
Pada sebelum kemerdekaan kampung Laweyan memegang peranan yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,di Laweyan ini pada tahun 1911 muncul organisasi politik yang bernama Sarekat Dagang Islam ( SDI ) yang didirikan oleh KH. Samanhudi,dalam bidang ekonimi para pedagang batik di laweyan juga memelopori pergerakan koperasi dengan mendirikan Persatoean Peroesahaan Batik Boemiputra Soerakarta ( PPBBS ) pada tahun 1935
B. Kondisi Geografis Kampung Laweyan
Kampung Laweyan atau Kelurahan Laweyan merupakan daerah yang termasuk wilayah Kecamatan laweyan yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini, Kecamatan Laweyan memiliki sebelas kelurahan, yaitu kelurahan Bumi, Jajar, Karangasem, Laweyan,Kertur, Panularan, Pajang, Purwosari, Penumping, Sondakan dan Sriwedari
Penulisan yang saya lakukan ini saya lakukan di kelurahan Laweyan atau kampung Laweyan,kampung Laweyan merupakan pusat industri batik tradisional di Indonesia,kampung Laweyan berada kira kira 15 km di pinggiran sebelah barat daya Kota Surakarta,posisinya yang sangat strategis menjadikan kampung Laweyan sebagai daerah yang menghubungkan daerah kawasan lua kota,khususnya wilayah Kartasura dan Sukoharjo
Kampung Laweyan saat ini mempunyai luas wilayah 24,83 Ha.Terdiri dari 20,56 Ha,tanah pekarangan dan bangunan,sedang yang berupa sungai,jalan,tanah terbuka dan kuburan luasnya 4,27 Ha
C. Wilayah Kampung Laweyan Dulu dan Sekarang
Dalam melakukan penulisan tentang Sejarah Kampung di laweyan ini,saya mewawancarai Bapak Slamet Setiono,Bapak Slamet ini merupakan tokoh masyarakat di kampung laweyan ini,beliau menyatakan bahwa ,Laweyan merupakan sebuah kawasan kampung dagang dan pusat industri batik,yang perkembangannya dimulai sejak awal abad ke 20.Jalur utama Laweyan adalah jalan protokol kedua setelah jalan Slamet Riyadi yang menjadi penghubung antara surakarta dan Jogjakarta,apabila di bandingkan dengan wilayah Surakarta yang lain Maka Laweyan merupakan daerah yang paling kecil,baik jumlah penduduk maupun luas wilayahnya.
Selama pemerintahan Kerajaan Mataram,daerah Laweyan terdiri dari 2 wilayah yaitu Laweyan Barat dan Laweyan Timur yang di pisahkan oleh sungai Laweyan. Karakteristik penduduk antara 2 wilayah tersebut sangat berbeda,penduduk di Laweyan Barat dalam masalah ekonomi dan kebudayaan lebih banyak berhubungan dengan fasilitas yang di sediakan oleh raja,sebaliknya laweyan Timur yang di huni oleh sebagia pedagang dan pengusaha batik,lebih banyak memusatkan kegiatan pada kegiatan pasar. Pasar yang telah mati itu sekarang menajdi kampung Lor atau utara dan kidul atau selatan pasar.
Sesudah terjadi pembaharuan dalam bidang administratif daerah kerajaan pada tahun 1918,administratif Laweyan di pcah menajdi 2 bagian antara Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo,secara umum separuh wilayah bagian timur sungai masuk kecamatan kota Laweyan dan separuh barat sungai ikut kecamatan Kartasura,Kabupaten Sukoharjo,daerah itu sekarang menjadi kampung Belukan
Beliau juga menambahkan,Laweyan terus berkembang sebagai pusat industri batik yang makmur du Surakarta,selama awal abad ke 20,sebagai akibat di temukannya alat pembatik cap menggantikan camting yang di bawa masuk ke Laweyan,industri batik Laweyan mengalami modernisasi,fase itu di tandai dengan munculnya gagasan para pengusaha melahirkan produk batik Sandang pada tahun 1925 dan batik Tedjo tahun1956.
Sekarang secara administratif Kelurahan Laweyan atau Kampung laweyan ini termasuk di bawah kecamatan Laweyan. Kampung ini di batasi oleh sungai Jenes,Batangan dan Kabanaran,yang merupakan batas alamiah kampung Laweyan dengan daerah Kartasura serta membenrikan peranannya untuk menampung pembuangan air limbah kota. Susunan pemukiman Laweyan masih mencerminkan aslinya sebagai kampung saudagar,tetapi sekarang ini pusat geografis daerah Laweyan bukan lagi pasar yang terletak di tepi sungai Laweyan,melainkan sepanjang jalan utama Laweyan yang membentang dari arah kota ke barat,jalan itu menjadi pemisah antara kampung saudagar batik sondakan di seberang utara dengan kampung Laweyan di selatan jalan. Kemudian perbatasan daerah bagian timur.
Kemudian perbatasan dengan daerah di bagian timur Laweyan,di pisahkan oleh jalan utama kampung,seperti jalan Tiga Negeri,Sidoluhur,maupun Laweyan banyak terdapat pertokoan,bengkel,warnet,dokter dan warung warung makan yang menempati bangunan gedung gedung pemukiman di tengah wilayah itu yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Jalan Dr. Radjiman merupakan jalur utama Laweyan yang terkenal akan batiknya . Dari ujung timur,daerah Pasar Kembang,terdapat perusahaan batik Danar Hadi, memasuki kawasan Kampung Kabangan,masih di jalan yang sama terdapat Pabrik batik Bratajaya.
D. Etnis dan suku yang tinggal di Laweyan
Etnis dan suku yang banyak berada di Laweyan adalah suku jawa,berdasarkan kesamaan etnis,sejak jaman kerajaan Mataram,Laweyan banyak di tinggali oleh bangsa Jawa dan profesinya dalah juragan batik sampai sekarang
E. Mata Pencaharian Penduduk Laweyan
Mayoritas Mata Pencaharian penduduk di Laweyan sebagian besar adalah pedagang batik ini semua berkat jasa Kyai Ageng Henis,selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat laweyan bagaimana caranya membuat batik. Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun kini berubah menjadi produsen batik.
Kampung Laweyan adalah sentra batik yang terkenal di Kota Solo. Mayoritas penduduk di kampung ini bekerja sebagai pengrajin batik. Batik-batik itu dipajang langsung di depan rumah mereka yang disulap menjadi ruang pamer atau butik. Ada yang terlihat mewah ada pula yang sederhana. Tapi nuansa kuno tetap dipertahankan..sampai sekarang. Selain itu penduduk laweyan juga ada yang menjadi karyawan pabrik,supir becak,supir angkot dan juga PNS,mereka hidup rukun dan membantu satu sama lain
F. Agama Mayoritas Penduduk laweyan
Penduduk di wilayah Laweyan Mayoritas Beragama Islam ini berkat Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V. yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede. Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis kemudian masuk Islam. Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di Laweyan.
Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya. Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan sampai sekarang.
Ada juga penduduk Laweyan yang beragama kristen dan Katolik tetapi jumlahnya sedikit,tetapi walau penduduk laweyan berbeda agama mereka tetap hidup rukun dan jarang terjadi pertentangan antar pemeluk agama yang berbeda.
G. Bentuk Arsitektur Pemukiman Penduduk Laweyan
. Dalam perkembangannya sebagai salah satu usaha untuk lebih mempertegas eksistensinya sebagai kawasan yang spesifik,corak bangunan di laweyan banyak di pengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa dan Islam,sehingga banyak bermunculan bangunan yang bergaya arsitektur jawa-eropa dengan bentuk yang sederhana beroreintasi kedalam,fleksibel,berpagar tinggi lengkap dengan lantai yang bermotif karpet khas timur tengah. Keberadaan beteng tinggi ini yang banyak memunculkan gang gang sempit dan merupakan ciri khas laweyan,selain untuk keamanan,juga merupakanbentuk usaha para pedagang batik ini untuk menjaga privacy dan aman dari tindakan pencurian.
Pemukiman di kampung Laweyan terdiri dari dua kelompok besar,kelompok tersebut terbentuk berdasarkan kesamaan etnis dan mata pencaharian,penduduk Laweyan sebagian besar di dominasi oleh keturunan Jawa yang mempunyai pekerjaan sebagai juragan batik.
Kampung Laweyan sebagai pemukiman tradisional,kawasannya terbentuk dari butiran massa yang saling berdekatan membentuk jalan lingkungan yang relatif sempit. Massa banguna milik juragan batik sebagian besar terdiri dari massa bangunan besar dan sedang,bangunan tersebut biasanya di lengkapi pagar tinggi yang menyerupai beteng. Adapun massa bangunan kecil jumlahnya lebih sedikit dari sebagian besar milik pekerja batik
H. Fasilitas di Pemukiman Laweyan
Fasilitas atau ruang publik di wilayah Laweyan antara lain berupa tempat terbuka,sebagian jalan (gang ),sebagian ruangan yang di gunakan untuk bimbingan les privat,mushola dan masjid,sebagai pemukiman tradisional,ruang runag tersebut terletak diantara massa bangunan yang tersusun secara padat dan berhimpitan dengan jarak yang relatif sempit,contoh ruang publik di laweyan adalah Area Makam Kramat,Masjid Baiturahim,latar jembar,Masjid Laweyan,Area Parkir Kramat,Langgar Makmur,Langgar Merdeka,Darul Arqom,Makan Ngingas,Dirham,Masjid Kirmani dan Makam Klaseman.
Ruang ruang umum milik masyarakat Laweyan ini di fungsikan sebagai suatu area untuk kegiatan bersama pada kegiatan kemasyarakatan.Masjid dan langgar selain di gunakan untuk tempat ibadah jiga di gunakan untuk kegiatan sosial dan kebudayaan masyarakat,ini karena keterbatasan ruangan,disamping masjid langgar dan dan tanah terbuka adalah milik negara,interaksi sosial juga di lakukan di tempat tempat umum seperti makam,ruangan di sisi jalan serta ruangan terbuka yang mendukung kegiatan masyarakat di Laweyan.
Pada saat industri batik di Laweyan mengalami masa kejayaan sekita tahun 1960an,kampung laweyan identik dengan sebagai suatu kawasan industri bersama,pada masa itu interaksi sosial terjadi lebih intensif. Pembatikan di lakukan di rumah rumah saudagar yang terletak di sisi utara,sedang proses pencucian dan penjemuran di lakukan di sungai dan area tepian sungai di lakukan di kawasan selatan,dalam hal ini jalan dan arena tepian sungai berfungsi sebagai area kontak sosial yang cukup efektif,pada masa itu morfologi kampung Laweyan berbentuk linier.
Seiring dengan perkembangan jaman,dengan di temukannya pompa penyedot air,produksi batik dapat di selesaikan di masing masing rumah,kondisi ini mengakibatkan berubahnya pola morfologi kawasan yang sebelumnya berbentuk linier menjadi berbentuk cluster,peran daerah sungai sebagai area kontak sosial berkurang,seiring dengan perubahan bentuk tersebut berkurang pula ruang kontak sosial masyarakatnya.
Dahulu rumah rumah penduduk Laweyan rumah rumah penduduk Laweyan saling berhubungan langsung melalui pintu pintu yang di bangun di dalam rumah yang di ebut pintu butulan diatas dan di bawah tanah,sebagian besar halaman rumah mereka juga di gunakan untuk kegiatan masyarakat,pintu butulan selain di gunakan untuk kominikasi antar warga tetapi juga du gunakan untuk keamanan,dengan bentuk rumah yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya mengakibatkan adanya rasa persaudaraan dan persatuan yang kuat diantara penduduk Laweyan.
Meskippun secara keseluruhan rumah Laweyan sebagian bear tertutup dan menimbulkan kesan angkuh,bagi orang luar,tetapi itu tidak sepenuhnya benar,di dalam rumah dengan pagar tinggi dan tertutp,terdapat suatu kegiatan sosial masyarakat dari komunitas Laweyan,ada ruang privat yang di gunakan untuk kegiatan publik di Laweyan,sehingga secara langsung maupun tidak langsung telah membentuk jalur-jalur ruang publik atau jalan alternatif yang biasa di gunakan oleh komunitas di dalamnya,dalam perkembangannya sekarang,karena adanya alih kepemilikan rumah dan adanya tuntutan kegiatan yang lain maka jalan pintas atau pintu butulan tidak pernah di gunakan lagi.
I . Sosial dan Budaya Penduduk Laweyan
Dalam Struktur kemasyarakatan di Laweyan terdiri dari kelompok masyarakat saudagar batik atau pedagang batik,masyarakat biasa, tokohmasyarakat seperti alim ulama dan pejabat pejabat pemerintahan,selain itu ada juga golongan saudagar atau pedagang batik yang didominasi oleh pedagang wanita yang berperan penting dalam perdagangan batik di Laweyan yang di sebut Mbok Mase atau Nyah Nganten dan untuk suami disebut Mas Nganten sebagai pelengkap dari keutuhan dari rumah tangga atau keluarga.
Sebagian besar Masyarakat Laweyan masih melestarikan kesenian tradisional seperti,keroncong,wayang dan karawitan yang biasanya di mainkan ketika ada acara pernikahan,sunatan,tetakan dan kelahiran bayi yang berlangsung di daerah tersebut,dalam bidang kegiatan kerohanian atau keagamaan sebagian besar masyarakat laweyan juga sering mengadakan kegiatan keagamaan seperti,pengajian,tadarusan dan kegiatan kegiatan lain yang tidak tertentu jadwal kegiatannya
Masyarakat di laweyan menurut sejarahnya adalah masyarakat yang menghasilkan keturunannya dengan tradisi kawin saudara,yaitu menikah dengan keluarganya yang masih berhubungan darah ,tujuannya adalah harta benda yang di miliki keluarga itu tidak jatuh ketangan orang lain yang bukan saudara,selain itu pernikahan antar saudara juga bisa menciptakan suatu keluarga besar yang antinya bisa melanjutkan usaha batik mereka.
J. Mitos di Laweyan
Ada banyak mitos yang ada di Laweyan,karena Laweyan penuh dengan crita sejarah yang menakjubkan,Laweyan juga bahkan usianya lebih tua dari keraton Surakarta,karena Laweyan sudah ada sebelum kerajaan Mataram berdiri,di Laweyan terdapat makam yang di keramatkan itu adalah makam Ki Ageng Henis,beliau adalah tokoh yang berjasa membuat Laweyan terkenal dengan batiknya.ketika beliau wafat makam itu di keramatkan oleh penduduk Laweyan.
Seperti makam makam tua di daerah lain,makam Ki Ageng Henis juga di keramatkan,menurut juru kunci makam tersebut,banyak pejabat pejabat di kota Solo ini yang sering meminta doa untuk mendapatkan kesuksesan,ada juga orang yang sakit kemudian berziarah ke makan tersebut dan pada akhirnya lukanya itu sembuh.
Tindakan yang di lakukan ini sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam,padahal yang sering berziarah ke makam ini adalah orang Islam,tetapi banyak sekali orang percaya,karena pernah suatu ketika,pada malam hari menurut juru kunci makam tersebut,ada pejabat yang minta di doakan di makam tersebut,keesokan harinya dia mendapat jabatan yang penting,ada juga orang tua yang patah kakinya,tetapi dia tidak mau ke doker,dan malah pergi ke makam Ki Ageng Henis dan langsung sembuh.
Kejadian semacam ini sbenarnya tidak masuk akal,tetapi masyarakat Jawa sudah terlalu percaya dengan hal hal semacam ini dan hal ini sebenarnya bertentangan dengan agama Islam agama yang juga sebenarnya di anut oleh orang orang yang berziarah tersebut,kita sebagai muslim harus tahu mana ajaran yang di perbolehkan maupun yang di larang oleh Allah SWT.
Mitos lain yang cukup terkenal di Laweyan adalah mengenai Bau Laweyan, keturunan yang mempunyai julukan Bau Laweyan ini adalah seorang wanita atau kalau di Laweyan di sebut Mbok Mase,keturunan wanita yang mempunyai ciri Bau Laweyan ini adalah wanita ini mempunyai ciri tompel atau titik hitam sebesar uang logam di Bahu kirinya,wanita atau keturunan ini mempunyai ciri yaitu kebal terhadap berbagai ilmu hitam dan pendiam namun apabila ia melakukan hubungan intim dengan suaminya,suaminya itu pasti mati secara mengenaskan.
Mitos ini sebenarnya belum terbukti atau seperti fiksi tetapi masyarakat sudah begitu percaya sehingga apabila ada anak perempuan yang memilki ciri tersebut pasti di jauhi dan tidak ada yang ma menikah dengannya. Kita sebagai umat muslim wajib menjauhi hal hal yang seperti ini hanya Allah lah yang menentukan hidup mati seseorang dan ini merupakan perangkap dari Iblis yang berusaha mengaajak manusia untuk berbuat dosa seperti dirinya,maka dari itu kita sebagau umat muslim wajib menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
Analisis Pendekatan tentsang sejarah lokal ini menggunakan pendekatan sosial dan budaya
Karena dalam penulisan saya menulis tentang struktur sosial yang ada di Laweyan seperti komunitas Laweyan karena sebagian besar penduduknya bekerja sebagai saudagar batik,mereka hidup di kampunh laweyan secara berkelompok dan mereka dalam melestarikan usahanya mereka melakukan kawin yang istilahnya peknggo atau biasanya di sebut dengan perkawinan dengan tetangganya sendiri sehingga mereka disana masih dalam satu keluarga,sebenarnta tujuan untuk menikah dengan tetangganya yang sesama saudagar batik ini agar usaha mereka bisa menjadi lebih besar dan maju.
Kemudian pendekatan budayanya adalah mitos yang berkembang di Laweyan ini adalah mengenai Bau laweyan yang membuat citra wanita di Laweyan menjadi buruk,karena mitos Bau Laweyan ini jelas merugikan saudagar di Laweyan karena apabila wanita yang mempunyai ciri sebagi bau laweyan ini apabila menikah dengan seorang pria maka pria itu akan mati secara mengenaskan. Hal ini sangat di percaya masyarakat di Laweyan sehingga masyarakat disana menjauhi dan mengucilkan wanita yang mempunyai ciri Bau Laweyan.
3. Kesimpulan
Kampung Laweyan ini merupakan situs sejarah yang sangat legendaris di Indonesia,usia kampung Laweyan yang bahkan melebihi dari usia Keraton Kasunanan di Solo ini,di Laweyan yang identik dengan batik menyimpan banyak sekali kisah kisah sejarah yang pada akhirnya melahirkan kampung yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari batik.
Berkat jasa KI Ageng Henis yang mengajarkan pembuatan batik pada masyarakat Laweyan dan juga menyebarkan ajaran agama Islam dengan di tandai dengan pembuatan Masjid Laweyan yang sangat legendaris dan pada akhirnya identik dengan kampung muslim
Struktur dari bangunan rumah di Laweyan ini yang seperti beteng atau tumah yang bertembok tinggi yang membuat dari luar kelihatan angkuh tetapi sebenarnya sistem sosial mereka sangat erat dan baik,dalam rumah tersebut di lengkapi pintu yang di gunakan untuk berhubungan dengan tetangganya maka hal itu di karenakan pula karena banyaknya penduduk di Laweyan yang saling menikah sehingga hubungan silaturahmi mereka menjadi sangat erat
Mitos di Laweyan juga sempat mebuat citra dari Mbok Mase yaitu citra para saudagar wanita di Laweyan menjadi tercoreng,karena apabila keturunan dari orang yang mempunyai ciri Bau Laweyan, yaitu wanita yang mempunyai tanda lahir atau tembong di bahu kiri,apabila ada yang menikahi wanita dengan ciri tersebut pasti lelaki ini pasti mati.
4. Saran
Kampung laweyan sebagai salah satu situs sejarah yang paling terkenal di Indonesia harus di lestarikan yaitu tentang batiknya, petilasan Keraton pajangnya dan juga tentang mitos nya agar tidak terjadi suatu klaim yang membuat batik Laweyan yang sangat terkenal inin tidak di ambil oleh negara atau daerah lain yang juga mengklaim batik yang merupakan julukan atau identitas dari Kota Solo dan juga Kampung Batik Laweyan
ahha kemarin tanggal 19 januari 2010 yang juga bertepatan dengan ulang tahun ku yang ke 20 aku mendapat surprise yang sangat mengejutkan…ketika itu aku dan teman2 ku sekampus sedang nongkrong2 di hotspot area…….aku mendengar ada bagi2 uang di kampus sastra yang ternyata uang itu bersumber dari BKM(Biaya Kesehjahteraan Mahasiswa) padahal uang itu seharusnya di bagikan kepada mahasiswa yang tidak mampu…….tetapi malah uang itu di bagikan secara cuma cuma pada mahasiswa didi FSSR,yang kaya pun dapat…….tetapi…….pembagian uang itu tidak adil,karena mahasiswa D3 dan S1 senirupa banyak yang itdak mendapatkan uang itu…………. padahal banyak mahasiswa D3 dan seni rupa yang juga sangat membutuhkan uang itu untuk keperluan biaya kuliah………..keanehan ini membuat mahasiswa D3 dan seni rupa FSSR sangat merasa di anaktirikan………….sehingga apabila wacana pemisahan seni rupa dengan sastra muncul kembali bahkan sampai ke media massa.
Pembagian uang itu tidak hanya terjadi di FSSR saja tetapi difakultas lain di UNS pun dapat karena UNS mendapat jatah uang itu untuk 2000 mahasiswa di UNS dan FSSR mendapat jatah 500 orang mahasiswa,sisanya untuk 8 fakultas lain di UNS,uang itu menurut kompas di bagikan merata 400 M untuk PTN dan PTS di seluruh INdonesia……..sebagai bagian dari beasiswa BMM dll…………,tetapi sayang pembagian itu tidak merata dan banyak mahasiswa mampu mendapatkan uang itu………….apabila ada tim investigasi….maka hal ini wajib di selidiki………….
Hello teman semua
Ayo kita sambut, hari baru telah tiba
Apa yang kurasakan, ku ingin engkau tahu
Dan berbagi bersama
Reff:
Buka kita buka hari yang baru
Sebagai semangat langkah ke depan
Jadi pribadi baru
Buka kita buka jalan yang baru
Tebarkan senyum wajah gembira
Dalam suasana baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
(Berry Saint Loco)
Coba diam walau hanya tuk sejenak,
Dengarkan kata dari sgala yang ku ucap,
Ku jelang pagi ini nikmati damai di hati,
Dalam waktu penuh arti karena aku dicintai,
Ku ingat kemarin suasana tak bersemangat,
Namun kini ku jalani dan semua rasanya tepat,
Bersama kita coba wujudkan harapan,
Membuka jalan dalam gapai setiap tujuan.
(Ipang)
Mentari bersinar selalu
Ini yang ku minta penuh semangat tertawa
Bersamamu teman semua
Karna ini saatnya kita nyanyi bersama
Back to Reff
(Lala)
Dengarkan hatimu, pastikan pilihanmu
Esok mentari kan datang, bawa sejuta harapan
Kita jumpa disana, berbagi bersama
Dan kita tahu, pelangi yang satukan kita
Buka kita buka hari yang baru
Sebagai semangat langkah ke depan
Jadi pribadi baru
Buka kita buka hari yang baru
Sebagai semangat langkah ke depan
Jadi pribadi baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah bukalah semangat baru
Bukalah semangat baru
Read more: http://gudanglagu.com/s/saint-loco/ello-ipang-berryst-locolala-buka-semangat-baru/#ixzz0cvJbJKa6
Nama : Haryo Pabancono
NIM : C0508032
Sejarah Eropa
5. Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.
Nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Fasisme adalah pengaturan pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh suatu kediktatoran partai-tunggal yang sangat nasionalis,rasialis,militeris,dan imperialis.
Sosialisme adalah Paham tentang masyarakat yang lebih umum. Semula, kata itu merupakan nama untuk hasrat dan gerakan yang ingin membangun masyarakat yang adil dan bebas, dengan keyakinan bahwa sumber segala ketidakadilan adalah hak milik pribadi dan itu harus dihapuskan .
Nazi : Partai fasis jerman yang berkuasa dari tahun 1933 sampai dengan tahun 1945 di bawah adolf hitler
Komunisme: Komunisme adalah Suatu paham anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata dan sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya.
Sumur Mbah Meyek, antara mitos dan realita (sebuah pelajaran berharga tentang air)
Menurut cerita, Kampung Bibis erat kaitannya dengan riwayat salah seorang putri Raja Pajang Sultan Hadiwijaya dari garwa selir Dewi Setya Arum Sari Hastutiningsih, yaitu Dyah Sri Widyawati Ningrum.Menurut Padi, salah seorang tetua kampung, suatu saat Dyah Sri Widyawati diusir dari keraton oleh Sultan Hadiwijaya, karena dituduh berbuat serong dengan abdi dalem. Ternyata, tidak hanya dia saja yang pergi dari keraton, Ibunya juga ikut menyertai kepergian anak perempuannya itu.
Karena murka, Sultan Pajang meminta prajurit kerajaan untuk membuntuti kepergian dua puteri keraton itu dan harus dibunuh. Pelarian puteri Dyah Widyawati dan ibunya ke timur kota Pajang sampai ke pinggir Kali Pepe. Keduanya lalu menaiki gethek (perahu dari bambu) untuk menyeberangi sungai tersebut. Maksudnya untuk melanjutkan pelarian ke utara. Namun, para prajurit berhasil menyusul, meski ketika itu gethek sudah sampai ke tengah sungai. Para prajurit kemudian melepaskan panah tombak, dan mengenai dada Dewi Setya Arum. Bersamaan dengan kejadian itu, tiba-tiba terjadi hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Gethek yang dinaiki terkena petir sehingga hancur. Anehnya, tempat itu mendadak menjadi gelap gulita, sehingga para prajurit memilih pulang ke keraton. Apalagi saat itu mereka merasa kedua puteri itu dipastikan sudah tewas terkena tombak.
Tewaskah kedua puteri itu? Ternyata menurut cerita yang diyakini, Dewi Setya Arum hilang bersama raganya (musna sak ragane), sedangkan Dyah Widyawati terlempar ke daratan bersama dengan gethek yang hancur itu.”Gethek yang rusak itu sampai meyek-meyek, sedangkan puteri Dyah Widyawati akhirnya pilih menetap di sebuah tempat, yang kemudian disebut Kampung Meyek.
. Di situ juga terdapat sebuah sumur kecil yang biasa disebut belik, yang juga disebut belik Meyek. Nama Meyek diambil dari kondisi gethek yang hancur dan kondisinya meyek-meyek. Maka sang puteri pun disebut Mbah Meyek,
Lain riwayat mengatakan, langkah Dyah Widyawati yang meyek-meyek karena kelelahan setelah berlari-lari dikejar prajurit, serta kelelahan karena terlempar dari sungai itu, yang kemudian memunculkan julukan Mbah Meyek. Dia kemudian menjadi pertapa bernama Dhundha Badhundha
Asal usul Kampung Bibis
Kenapa kemudian disebut Kampung Bibis? Ternyata ada riwayat lanjutannya. Saat itu ada seorang kiai yang nenepi (tirakat) di Kampung Meyek itu. Kiai itu kemudian ditemui pertapa Dhundha Badhunda, dan diberi beberapa pesan. Pertama dia diberi obat untuk anaknya yang sakit, berupa air yang diambilkan dari belik Meyek.
Kedua, jika ingin Kampung Meyek menjadi makmur harus diganti namanya menjadi Kampung Bibis. Selanjutnya, setiap tahun sekali, tepatnya pada hari Selasa Kliwon di bulan Sura, harus mengadakan sedekah desa dan wayangan di malam Jumat Pon. Pesan itu hingga sekarang dilaksanakan warga sekitar. Setiap menjelang hari itu di bulan Sura, diadakan bersih desa, masyarakat bekerja bakti bersama membersihkan belik Meyek dan sekitarnya. Juga kemudian digelar wayang semalam suntuk, bahkan sebelum pagelaran dimulai wayang yang akan digunakan ki dalang terlebih dulu dikirab keliling kampung. Sedangkan sebutan Kampung Meyek berganti menjadi Kampung Bibis.
Riwayat lain mengatakan, disebut Kampung Bibis karena di situ juga terdapat banyak burung Belibis. Hanya saja karena sekarang sudah berubah menjadi perkampungan, tidak ada lagi burung belibisnya.
Arti Penting dari Menjaga Kelestarian Air
Kebudayaan Jawa yang berakar pada tradisi agraris perkembangannya juga tidak lepas dari dinamika masyarakatnya dalam mengelola air sebagai suatu yang sakral dan agung, sehingga terikat dengan mitos dan kepercayaan masyarakatnya. Banyak cerita rakyat yang juga berhunungan dengan keberadaan air, seperti cerita tentang terjadinya Telaga Ngebel dan Rawa Pening.Penghormatan terhadap air juga nampak dalam masyarakat desa, yang secara tradisional selalu menghubungkan keberadaan air dengan pedahnyangan desa yang selalu berwujud sumber air. Sama ketika di Kampung Kandang Sapi terdapat sebuah Sendang dan Di kampung Bibis Terdapat dua buah sumur, yaitu Sumur Mbah Meyek dan yang penulis temukan lainnya adalah Sumur Mbah Mbandung.
Masyarakat percaya bahwa pedahnyangan desa ini merupakan tempat bersemayamnya arwah leluhur yang merupakan cikal bakal desa yang akan terus mengawasi dan menjaga ketentraman desa. oleh karena sumber air merupakan tempat bersemayamnya pedahnyangan desa maka pelestarian lingkungan sumber air tetap harus dijaga oleh seluruh warga desa, seperti yang terjadi di desa bibis, diadakan bersih desa.
Air ternyata tidak saja menjadi sumber kehidupan bagi manusia melainkan juga faktor pendorong munculnya peradaban manusia. kehadiran air dalam kehidupan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebab apabila terlalu berlebih bisa menjadikan sebuah bencana, sebaliknya jika kekurangan juga bisa mengakibatka bencana. untuk itu sentuhan budi dan daya manusia sangat diibutuhkan agar kebutuhan akan air bisa tercukupi sesuai dengan yang diinginkan manusia.
