Pemikiran Immanuel Kant

Nama : Haryo Prabancono
NIM : C0508032
Sejarah Pemikiran Modern

Pemikiran Immanuel Kant
Proyek Kritik Kant
Tujuan utama dari filsafat kritis Kant adalah untuk menunjukkan, bahwa manusia bisa memahami realitas alam (natural) dan moral dengan menggunakan akal budinya. Pengetahuan tentang alam dan moralitas itu berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yakni hukum-hukum yang sudah ada sebelum pengalaman inderawi. Pengetahuan teoritis tentang alam berasal dari hukum-hukum apriori yang digabungkan dengan hukum-hukum alam obyektif. Sementara pengetahuan moral diperoleh dari hukum moral yang sudah tertanam di dalam hati nurani manusia. Kant menentang empirisme dan rasionalisme. Empirisme adalah paham yang berpendapat, bahwa sumber utama pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi, dan bukan akal budi semata. Sementara rasionalisme berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi yang bersifat apriori, dan bukan pengalaman inderawi. Bagi Kant kedua pandangan tersebut Kant juga berpendapat bahwa moralitas memiliki dasar pengetahuan yang berbeda dengan ilmu pengetahuan (science). Oleh karena itu ia kemudian menulis Groundwork of the Metaphysics of Morals pada 1785, dan Critique of Practical Reason pada 1788. Pada 1790 Kant menulis Critiqe of the Power of Judgment. Di dalamnya ia menyentuh bidang estetika. Namun pada hemat saya, metode di dalam filsafat kritis Kant lebih nyata di dalam bukunya yang pertama, yakni Critique of Pure Reason yang saya terjemahkan menjadi Kritik atas Rasio Murni. Buku inilah yang kemudian menjadi acuan saya dan Buroker pada bab ini.
Di dalam bagian pengantar dari Kritik atas Rasio Murni, Kant menyatakan bahwa “walaupun metafisika banyak dimaksudkan sebagai ratu dari ilmu-ilmu, tetapi rasionalitas metafisis kini dihadapkan pada sebuah pengadilan. Sekali lagi, “kita harus menelusuri kembali langkah-langkah yang telah kita rumuskan. Perdebatan di dalam refleksi metafisika telah membuat metafisika itu sendiri menjadi semacam medan pertempuran, di mana setiap pihak yang berperang tidak berhasil mendapatkan satu inci pun dari ‘teritori’ yang ada. Konsekuensinya metafisika kini ‘terombang ambing’ di antara dogmatisme dan skeptisisme. Metafisika telah menjadi pemikiran spekulatif yang meraba-raba secara acak. haruslah dikombinasikan dalam satu bentuk sintesis filosofis yang sistematis.
Immanuel Kant berpikir lain. Pada Kant metafisika dipahami sebagai suatu ilmu tentang batas-batas rasionalitas manusia. Metafisika tidak lagi hendak menyibak dan mengupas prinsip mendasar segala yang ada tetapi metafisika hendak pertama-tama menyelidiki manusia (human faculties) sebagai subjek pengetahuan. Disiplin metafisika selama ini yang mengandaikan adanya korespondensi pikiran dan realitas hingga menafikkan keterbatasan realitas manusia pada akhirnya direvolusi total oleh Kant. Dalam diri manusia, menurut Kant, ada fakultas yang berperan dalam menghasilkan pengetahuan yaitu sensibilitas yang berperan dalam menerima berbagai kesan inderawai yang tertata dalam ruang dan waktu dan understanding yang memiliki kategori-kategori yang mengatur dan menyatukan kesan-kesan inderawi menjadi pengetahuan.
Para filosof sebelum Kant hendak menyibak das ding an sich realitas dalam dirinya atau neumenom oleh rasionalitas manusia, sedangkan pada Kant, hakikat realitas itu sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diketahui (misalnya Tuhan itu sesungguhnya apa? Dunia itu apa?). yang diketahui adalah gejalahnya, fenomenanya (relitas sebagaimana penampakkannya), sejauh saya melihatnya (das ding fur mich). Di sini Kant tidak melegitimasi kemampuan akal budi manusia memahami esensi sebuah realitas tetapi memahami bahwa akal budi manusia terbatas dalam memeperoleh pengetahuan dibalik segala penampakan.
Yang hendak ditelusuri dari paper ini adalah metafisika gnoseologi Immanuel Kant. Pokok pikiran utama yang hendak ditampilkan adalah sebuah revolusi metafisis yang diprakarsai oleh Kant. Dengan demikian uraian yang akan saya jelaskan nanti dalam skripsi berawal dari penjelasan tentang keberadaan metafisika gnoseologi dalam panorama filosofis sejak munculnya para filosof awali kemudian dilanjutkan dengan perkembangannya pada abad pertengahan, abad modern yang tentu diprakarsai oleh Descartes dan puncaknya adalah revolusi pemikiran oleh Kant. Oleh karena itu uraian yang akan saya berikan dalam papper berupa, yang utama, penjelasan tentang pemikiran Kant yang melihat pengetahuan itu bukan pertama-tama bagaimana subjek itu memahami objek (subjek yang terarah pada objek/realitas) tetapi memfokuskan diri pada bagaimana cara benak kita memahami objek sejauh cara tersebut bersifat apriori. Maka menurut saya adalah sangat penting untuk pertama-tama menjelaskan bagaimana cara kerja akal budi manusia sehingga bisa menentukan segala pengenalan dan pengetahuan tentang segala realitas yang ada.
Revolusi Kopernikan
Filsafat sebelum Kant memiliki proses berpikir yang mana subjek harus mengarahkan diri pada objek (dunia, benda-benda). Kehadiran Kant membawa sebuah evolusi besar dalam cara berpikir metafisis, karena menurutnya, bukan subjek yang mengarahkan diri pada objek, tetapi sebaliknya. Yang mendasar dari pemikiran Kant ini adalah ia tidak memulai dari objek-objek tetapi dari subjek. Objek-obejk itu yang harus “menyesuaikan” diri dengan subjek. Dengan demikian menurut filsafat Kant, realitas itu ada dalam akal budi manusia. Inilah yang disebut sebagai revolusi Kopernikan, artinya sebuah perubahan cara berpikir semendasar Kopernikus yang mengubah pandangan dari geosentris menuju heliosentris.
Selanjutnya filsafat Kant ini disebut sebagai filsafat transendental (transcendental Philosophy). Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dengan demikian metafisika gnoseologi Kant ini merupakan sebuah upaya untuk mereduksi realitas kongkrit (inderawi) pada realitas di dalam akal budi. Bahwa akal budi manusia mempunyai struktur-struktur pengetahuan mengenai segala apa yang ada.
Dalam pandangan Kant, objek itu nampak hanya dalam kategori subjek, jadi tidak ada cara lain kecuali mengetahuinya dengan struktur kategori akal budi manusia. Sebenarnya pemikiran Kant ini berangkat dari pemahamanya tentang hakikat realitas atau neumena itu tidak pernah diketahui , yang kita ketahui itu gejalahnya. Sejauh objek itu saya lihat lantas segala yang dilihat itu masuk dalam akal budi menjadi pengetahuan.
Proses Pengetahuan.
Kant menolak klaim metafisika atas pengetahuan tentang realitas fundamental (das ding an sich). Oleh karena ketika kita berhadapan dengan realitas kita selalau mengalami realitas itu dalam kategori-kategori yang sudah tertanam dalam benak kita. Jadi pengetahuan dan pengenalan tentang segala yang ada itu ditentukan oleh hukum-hukum atau prinsip-prinsip pengetahuan yang secara konstitutif ada dalam akal budi mansusia.
Untuk lebih jelasnya, saya akan membuat kerangka proses pengetahuan manusia menurut Kant.
Rasio
Kerangka di atas adalah skema tentang proses pengetahuan dari Immanuel Kant. Kerangka pengetahuan ini hendak menjelaskan bahwa Kant berpikir bukan melalui objek-objek tetapi subjek. Kant hendak menyelidiki struktur pengetahuan subjek sendiri yang membentuk pengetahuan tentang segala yang ada. Dengan cara ini Kant sekaligus suddah menunjukkan apa sesungguhnya yang menjadi sumber dan struktur pengetahuan manusia. Pengetahuan itu bersandar pada pengalaman inderawi dan bergerak dalam wilayah kenyataan yang bisa dialami manusia. Dan pengetahuan itu invalid bila bergerak di laur kenyataan yang bis adialami manusia. Itulah sebabnya maka Kant menolak metafisika-metafisika sebelumnya yang mengganggap realitas das ding an sich bisa dicerna oleh rasionalitas manusia.
Daftar Pustaka:
http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/filsafat-metafisika-immanuel-kant.html http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/235

8 thoughts on “Pemikiran Immanuel Kant

  1. Pingback: JERRY
  2. Saya sependapat sekali dengan pandangan kritis Emanuel Kant, hanya saja sedikit kritik dari saya adalah bahwa pemikiran subyektivisme yang dikembangkan oleh Emanuel Kant tidak berarti mengesampingkan apalagi sampai menghilangkan kebenaran obyektif.

  3. (untuk yg nomer 4) setiap bgaian dari suatu konstruksi benda mempunyai peran penting. Bagian kayu dari pensil (bagian luar) sangat penting untuk menjaga kekokohan arang di dalamnya, bila kualitas kayu tak baik maka arang di dalam bisa rapuh dan mudah patah saat di raut. Bila arang saja tanpa bungkus kayu, maka memegangnya akan sangat tidak nyaman karena seluruh tangan bisa tercoreng. Jadi menurutku, tidak ada istilah bgaian terpenting’ karena semuanya penting. Walau ada hal yg lebih penting lagi, yaitu bagaimana, untuk apa pensil itu digunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>